Inilah cara yang dipilih pembina Adiwiyata SMP Negeri 18 Malang agar para siswanya kreatif. Mengajari anak didiknya membuat karya bermanfaat tanpa mengeluarkan banyak biaya. Yakni, dengan memanfaatkan barang bekas. Mulai bikin pot, bikin pupuk, hingga kerajinan. Semua bahannya berasal dari lingkungan sekolah sendiri. Mulai bekas botol minuman, kaleng maupun bahan yang tersisa. Termasuk daun kering juga diolah menjadi pupuk dan pembuatan pupuk kompos dengan media cacing tanah (kascing). Kreasi para siswa itu kemarin (20/9) dipamerkan ke tim juri Green School Festival (GSF).

 

Kepala SMP Negeri 18 Malang menyampaikan, di sekolahnya memang berprinsip bagaimana semua inovasi yang dilakukannya tidak memerlukan banyak biaya. Mulai dari tempat tanaman, pupuk, dan lain-lainnya bisa dibuat dari dalam sekolahnya. Salah satunya, tanaman sayuran sawi Jepang, kangkung,  aquaponik yang biasanya dari paralon dibuat dari botol bekas. ”Rata-rata kan pakai paralon untuk tempatnya. Nah, kami menggunakan botol bekas dari minuman. Daripada tidak terpakai, mending dimanfaatkan,” ujarnya.

Sekolah yang beralamat di Jalan Soekarno Hatta A-394 Kota Malang, itu juga mengajari siswanya berwirausaha. Ketika sayuran dari inovasi lingkungannya itu sudah dipanen, dia memberikan tugas kepada siswanya untuk menjual hasilnya itu. ”Terserah siswa mau dijual ke mana. Kami hanya memberi mereka tugas. Tapi, hasilnya nanti juga akan dibelikan bibit tanaman itu lagi,” ucap kasek sejak 2016 itu. Banyak terdapat tanaman buah langka di SMP Negeri 18 Malang, mulai dari rukem, matoa, buah tin dll. Dari berbagai macam buah ini siswa siswi memanfaatkan buat tersebut menjadi makanan dan minuman olahan dari buah tersebut sebagai produk lokal unggulan SMP Negeri 18 Malang

Antusias Green school Festival 2018 bukan hanya dari siswa siswi saja tetapi peran serta wali murid juga di gerakkan melalui kegiatan-kegiatan salah satunya adalah kerja bakti pengecatan kelas, perbaikan taman, dan perawatan tanaman-tanaman yang ada di sekitar SMP Negeri 18 Malang.